Showing posts with label SEJARAH. Show all posts
Showing posts with label SEJARAH. Show all posts

Injil 1.500 Tahun Klaim Nabi Isa tak Disalibkan

Perdebatan panjang tentang nasib Nabi Isa AS--Yesus Sang Juru Selamat dalam pandangan Kristiani, tak pernah lekang ditelan bergulirnya zaman. Perdebatan itu bahkan tampaknya akan kembali menguat seiring klaim ditemukannya kitab Injil berusia lebih dari 1.500 tahun.

Menurut situs higherperspective.com, dalam kitab Injil versi Barnabas yang ditemukan itu terdapat klaim bahwa Nabi Isa AS atau Yesus, tidak pernah disalibkan. Yang disalibkan adalah sahabatnya, Yudas Iskariot—atau Yahudza dalam versi Islam. 

Injil Barnabas adalah Injil di luar Injil-injil kanonik yang direstui dan diresmikan Vatikan, yakni Injil-injil Matius, Markus, Lukas dan Yohanes. Sebagaimana versi Islam, Injil tua itu menyatakan, Yesus langsung diangkat ke surga, sementara Yudas dengan iradah Allah disamarkan sehingga menyerupai Yesus dan disalibkan dalam prosesi sebagaimana yang diyakini selama ini. 

RAKYAT ACEH MENAGIH JANJI SBY

GUBERNUR Zaini Abdullah mengeluarkan ‘ultimatum’ kepada Mendagri dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) agar Pemerintah Pusat menyelesaikan dua Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) dan satu Perpres turunan UUPA sebelum Pemerintahan SBY berakhir. ‘Ancaman’ Pemerintah Aceh ini mendapat respons dari Dirtjen Otda Kemendagri, Prof Djohermansyah Djohan. Senin, 16 Juni 2014, ia mendadak terbang ke Aceh, menggelar rapat dengan Doto Zaini, Wali Nanggroe Malik Mahmud Al Haytar, dan Ketua DPRA Hasbi Abdullah, membahas perihal sikap keras Pemerintah Aceh tersebut. Lantas, bagaimanakah kini nasib RPP dan Perpres? Masih bisakah SBY diharap menuntaskan sebagian regulasi itu? Serambi merangkumnya dalam laporan eksklusif edisi ini.

LELAKI paruh baya itu duduk di sofa ruang utama Pendopo Gubernur. Sesekali ia tersenyum sumringah kepada beberapa orang yang datang menghampirinya. Tak seperti biasanya, Prof Djohermansyah Djohan mendadak muncul di pendopo. Ia datang bersama beberapa staf Kementerian Dalam Negeri. Layaknya tamu biasa, tak ada sambutan istimewa untuk lelaki yang menjabat sebagai Dirjen Otda Kemendagri itu. Kedatangan Prof Djo--demikian ia disapa--tak lama setelah Pemerintah Aceh menyatakan menolak undangan Mendagri hadir dalam rapat membahas masa cooling down Qanun Bendera yang berakhir 16 Juni 2014. Sejalan dengan itu Gubernur Aceh juga melayangkan satu surat ultimatum kepada Mendagri dan Presiden RI agar mempercepat penyelesaian tiga regulasi penting bagi Aceh, yakni dua RPP dan satu Perpres turunan Undang-Undang Pemerintahan Aceh.

Wali Nanggroe Minta Pemerintah Daerah Beri Perhatian Khusus Untuk Dayah

Wali Nanggroe Aceh Malik Mahmud Al-Haytar meminta pemerintah Aceh dan Pemerintah kabupaten/kota di seluruh Aceh untuk memberikan perhatian besar terhadap dayah-dayah atau pesantren yang ada diseluruh Aceh. Pasalnya dayahlah yang telah membentuk peradaban Aceh yang Islami sejak masa lalu.

Hal demikian dikatakan Wali Nanggroe Aceh pada maulid akbar dan peusijuk Wali Nanggroe Aceh di Kabupaten Aceh Besar, Minggu (19/01/2014).

Malik menyebutkan di era dahulu dayah tidak saja menjadi pusat pendidikan keagamaan tetapi juga sebagai pusat pengembangan perekonomian rakyat, sosial dan politik, serta ruang bagi masyarakat untuk mengkaji berbagai manuskrip  peradaban  Aceh.

Malik mengatakan dayahlah yang telah mendidik rakyat Aceh pada masa lalu, sehingga mereka menjadi ulama, raja, panglima perang, ahli pertanian, ahli kedokteran bahkan ahli politik sehingga pada abad ke 16 Aceh pernah mengirim seorang duta besar ke Belanda.

“Bagi rakyat Aceh Dayah sangat besar perannya, tidak hanya bidang agama, tetapi juga sosial dan ekonomi, maka karena itu saya berharap pemerintah untuk memberikan perhatian yang sunggung-sunggu kepada daya”ujarnya.

Acara Peusijuk Wali Nanggroe Aceh Malik Mahmud Al-Haytar

Paduka Yang Mulia Wali Nanggroe, Malik Mahmud Al-Haytar didampingi Yahya Muaz bersiap  untuk makan hidangan "semulang" dari rombongan Ketua Khasanah Raja Aceh,  T Raja Zulkarnaini, usai acara "peusijuk Wali Nanggroe" dan silaturrahmi  khasanah raja-raja Aceh di Meuligoe Wali, Selasa (14/1). Dalam kegiatan  itu hadir para raja dari Nagan, Raja Daya, Raja Kuala Batee dan para keluarga raja. sumber serambinew.com, berikut foto kegiatan peusijuk





UANG DIRHAM KERAJAAN ACEH DARUSALAM DI TEMUKAN DI GAMPONG PANDE

BANDA ACEH – Salah satu mata uang emas (dirham) yang ditemukan di lokasi situs Gampong Pande, Banda Aceh, Senin (11/11/2013), tercetak nama seorang sultan besar dalam sejarah Aceh. Pada sebelah muka  dirham tersebut terulis: ‘Alawuddin bin ‘Ali Malik Azh-Zhahir dan bagian belakangnya: As-Sulthan Al-Adil.

Dirham itu diperlihatkan seorang warga Pande, Heri Wijaya, kepada peneliti sejarah dan kebudayaan Islam, Taqiyuddin Muhammad dan Misykah.com, Kamis (14/11/2013).

Sultan ‘Alawuddin adalah putra Sultan ‘Ali Mughayat Syah yang dianggap sebagai pelopor kebangkitan Kerajaan Aceh Darussalam di awal abad ke-16 Masehi. “Sesuai data inskripsi yang berhasil diungkap dari nisan makam Sultan ‘Alawuddin yang berada di kompleks makam Kandang XII, Banda Aceh, menunjukkan bahwa ia adalah seorang sultan agung di kawasan Asia Tenggara dalam abad tersebut,” ujar Taqiyuddin.

Makam era Samudra Pasai di Blang Rheu Aceh Utara

Jirat Teungku Muda atau Batee Raya di Gampong Matang Raya, Baktiya Barat.
Dua batu nisan berukuran besar sangat fenomenal, dan dijadikan lokasi doa
minta hujan oleh masyarakat.sumber atjehpost.com
Ada makam laksamana era Samudra Pasai di Blang Rheu Aceh Utara Warga setempat mengatakan Raja Tampok yang dalam hikayat merupakan ayah dari Malim Diwa, itu adalah seorang panglima perang laut.

TIM Central Information for Samudra Pasai Heritage (Cisah) menemukan 426 batu nisan tersebar di 50 lokasi pemakaman berasal dari zaman Samudra Pasai, di Kemukiman Buah, Kecamatan Baktiya Barat, Aceh Utara.

Monumen Kerajaan Samudra Pase di Desa Beuringen

LHOKSUKON-  Dinas Perhubungan, Kebudayaan dan Pariwisata Aceh Utara berencana membangun Monumen Kerajaan Samudra Pase di Desa Beuringen, Kecamatan Samudera Aceh Utara, tepatnya dekat dengan makam Malikussaleh.

Monumen yang dibangun di atas tanah seluas 7,7 hektare tersebut diperkirakan menghabiskan biaya Rp45 miliiar, “Monumen tersebut akan dibuat dalam empat tahap. Kita belum tahu pasti berapa tahun akan siap, itu tergantung cepat tidaknya proses anggaran” ujar Kepala Bidang Wisata Dinas Perhubungan, Kebudayaan dan Pariwisata, Nurliana, kepada The Atjeh Post, Kamis 23 Februari 2012.

Nurliana mengaku sudah mengajukan proposal ke Jakarta untuk membangun monumen tersebut, “Monumen ini akan bermanfaat untuk generasi Aceh, jangan bangga saja dengan Aceh tapi tidak mengerti tentang sejarah Aceh," ujarnya. [atjehpost.com]

Makna Tulisan Inskripsi Pada Nisan Makam Malikussaleh

Makam Sultan Malikussaleh wafat pada 696 Hijriah (1297 Masehi)
Makna tulisan inskripsi pada nisan Makam Malikussaleh yang terdapat  di sisi muka nisan sebelah kaki atau selatan, yang teksnya: “Hdza al-qabrul al-marhm al-maghfr at-taqiy an-nshih al-hasb an-nasb al-karm al-‘bid al-ftih al-mulaqqab sulthn Malik ash-Shlih alladz intaqala min syahr Ramadhn sanata sitt wa tis’na wa sittumi’ah min intiqal an-nabawiyyah saqa Allhu tsarhu wa ja"ala al-jannata matswhul ilha illa-Llhu Muhammad rasulullah.”

Makna dari kalimat itu, kata Taqiyuddin (peneliti sejarah dan kebudayaan Islam Taqiyuddin Muhammad), ialah: “Inilah kubur orang yang dirahmati lagi diampuni, orang yang bertaqwa (takut kepada murka dan azab Allah) lagi pemberi nasehat, orang yang berasal dari keluarga terhormat dan dari silsilah keturunan terkenal lagi pemurah (penyantun), orang yang kuat beribadah (‘abid) lagi pembebas, orang yang digelar [dengan] Sultan [Al-]Malik Ash-Shalih, yang berpindah [ke rahmatullah] dari bulan Ramadhan tahun 696 dari hijrah Nabi [saw.]. Semoga Allah menyiramkan [rahmat-Nya] ke atas pusaranya serta menjadikan syurga tempat kediamannya. Tiada tuhan selain Allah, Muhammad utusan Allah). sumber :atjehpost.com

Sang penyebar Islam dari Samudra Pasai, Kebesaran Malikussaleh,

Pendiri Kerajaan Islam Samudera Pasai ini menyebarkan Islam di Asia Tenggara. Ahli ibadah dan pembebas yang kesatria.

Makam Al-Malik Ash-Shalih atau Al-Malikush-shalih yang lebih dikenal
Sultan Malikussaleh. @ATJEHPOSTcom/Irman I.P
TEUNGKU Muhammad Yakob menyapu lantai keramik putih di kompleks makam itu. Makam Al-Malik Ash-Shâlih atau Al-Malikush-shâlih yang lebih dikenal Sultan Malikussaleh ini, dipayungi cungkup beratap genteng hijau tua.
Makam raja pertama Kerajaan Islam Samudra Pasai itu berada di Gampong Beuringen, Samudra, Aceh Utara. Di sisi makam Sultan Malikussaleh, ada makam Sultan Muhammad atau Malikul Zhahir. “Ini putra Sultan Malikussaleh,” ujar Teungku Muhammad Yakob, juru kunci makam Sultan Malikussaleh, ditemui beberawa waktu lalu.

Shaykh As-Singkili Abdurrauf; cleric Mufti once the Kingdom

Ilustrasi Syekh Abdurrauf As-Singkili.
 @ATJEHPOSTcom/Idrus Bin Harun
Name magnitude dilakabkan at one public university in Aceh. Book of commentary circulated to overseas. Shaykh As-Singkili Abdurrauf one of the great scholars of Singkil. His name is now dilakabkan be UNSYIAH name or Unsyiah. The university is located in Darussalam, Banda Aceh.

Shaykh As-Singkili Abdurrauf believed to have two graves. One was in Deah Raya, Kuala Shiite district, Banda Aceh. One more in the Village Kilangan, Singkil. Tomb in Singkil be Krueng Singkil lips. Many pilgrims come to this tomb, both of Aceh and from outside the region such as West Sumatra. While in Banda Aceh, the location of the tomb of Shiite Kuala lips are in the Straits of Malacca. As in Singkil, grave location is also visited by many pilgrims. Even serve as the location of the tomb of religious tourism in the country Rencong by local governments.

Bendera dan Lambang Aceh: Problem Hukum Yang Tersisa

Dengan ditandatanganinya Nota Kesepahaman Helsinki, maka Gerakan Aceh Merdeka telah secara eksplisit mengakui status Aceh sebagai bagian dari NKRI

BERDASARKAN nota kesepahaman antara Pemerintah Republik Indonesia dengan Gerakan Aceh Merdeka yang ditandatangani di Helsinki pada 15 Agustus 2005, Aceh diberi sebuah status khusus dalam Negara Republik Indonesia. Dalam batas-batas tertentu, Pemerintah Aceh berwenang untuk mengatur dirinya sendiri yang memiliki perbedaan dengan daerah otonomi lainnya di Indonesia.

Status khusus yang diperoleh Aceh diantaranya diperbolehkannya Aceh memiliki partai politik yang dilokalisir keikutsertaannya dalam pemilu di wilayah Aceh, juga diperbolehkannya Aceh untuk memiliki lambang, bendera, dan lagu daerah yang berlaku secara khusus di Aceh.

Dengan ditandatanganinya Nota Kesepahaman tersebut, maka Pemerintah Indonesia bersama-sama dengan DPR lalu mengundangkan UU No 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh pada 1 Agustus 2006. Sebagaimana dalam Nota Kesepahaman, UU Pemerintahan Aceh juga mengatur bahwa Aceh berhak memiliki Bendera, Lambang, dan Himne tersendiri yang tidak boleh dianggap sebagai lambang kedaulatan Aceh.
Namun, pada 10 Desember 2007 pemerintah juga mengeluarkan PP No 77 Tahun 2007 tentang Lambang Daerah. Regulasi ini melarang bendera, lambang, dan himne daerah memiliki persamaan pada pokoknya atau secara keseluruhan dengan bendera, lambang, dan himne organisasi terlarang atau organisasi/perkumpulan/lembaga/gerakan separatis.

Pelantikan pengurus baru Partai Aceh

Pemangku Wali Nanggroe, Malik Mahmud melantik pengurus baru Dewan Pimpinan Aceh (DPA) Partai Aceh di Taman Sri Ratu Safiatuddin, Banda Aceh, Minggu 24 Maret 2013. Para pengurus baru itu diharapkan bersedia bekerja untuk kemajuan Partai Aceh dimasa mendatang.Sumber:www.atjehpost.com

ALASAN SULTAN SULU MEYERANG


Sultan Sulu Darul Islam Tuntut Hak Atas Sabah 

MESKIPUN kelompok penyerang di Lahat Datu Sabah yang disebut Pasukan Kerajaan Kesultanan Sulu setuju untuk keluar dari area tersebut dalam waktu dekat, tetapi berita dari Manila, dilaporkan sebaliknya. Mereka dikatakan tidak akan meninggalkan dan menuntut kembali kawasan itu sebagai wilayah nenek moyang mereka.

Pada minggu lalu, Sultan Jamalul Kiram mengakui, pengikutnya sekitar 400 orang, termasuk 20 pria bersenjata sudah dikepung, menegaskan kepada wartawan di Manila,

"Mengapa kita harus meninggalkan rumah kita sendiri? Bahkan, mereka (rakyat Indonesia) harus membayar sewa (kepada kita),"
"Pengikut kami akan tinggal di (kota Sabah) Samarinda. Tiada siapa yang akan dikirim (balik) ke Filipina. Sabah adalah rumah kami!" katanya.


ISI PETIKAN SURAT SULTAN ACEH ALAUDDIN MAHMUD SYAH KE PADA KERAJAAN TURKI

Hubungan antara Kesultanan Aceh dengan Ottoman Turki Istambul dimulai sejak masuknya pedagang-pedagang Eropa ke nusantara. Para pedagang asal Eropa itu kerap mengganggu kedaulatan kerajaan-kerajaan di semenanjung Malaka, termasuk Aceh.
Guna menghadapi imperialisme bangsa Eropa tersebut, Kerajaan Aceh mencari dukungan dari kerajaan-kerajaan tetangga termasuk dari Khalifah Abdul Aziz dari ke khalifahan Turki Utsmani pada tahun 1563 M.
LOSTISLAMICHIST
Surat dari Sultan Ottaman Turki untuk Sultan Acehabad ke-15
Utusan dari Aceh membawa serta hadiah-hadiah berharga dari Sultan untuk dipersembahkan kepada penguasa Turki. Hadiah-hadiah itu antara lain berupa emas, rempah-rempah dan lada.
Bersama utusan itu, Sultan Aceh Alauddin Mahmud Syah mengirimkan sepucuk surat resmi kepada khalifah. Berikut petikan surat tersebut :

“Sesuai dengan ketentuan adat istiadat kesultanan Aceh yang kami miliki dengan batas-batasnya yang dikenal dan sudah dipunyai oleh moyang kami sejak zaman dahulu serta sudah mewarisi singgasana dari ayah kepada anak dalam keadaan merdeka. 

Sesudah itu kami diharuskan memperoleh perlindungan Sultan Salim si penakluk dan tunduk kepada pemerintahan Ottoman dan sejak itu kami tetap berada di bawah pemerintahan Yang Mulia dan selalu bernaung di bawah bantuan kemuliaan Yang Mulia almarhum sultan Abdul Majid penguasa kita yang agung, sudah menganugerahkan kepada almarhum moyang kami sultan Alaudddin Mansursyah titah yang agung berisi perintah kekuasaan.

Kami juga mengakui bahwa penguasa Turki yang Agung merupakan penguasa dari semua penguasa Islam dan Turki merupakan penguasa tunggal dan tertinggi bagi bangsa-bangsa yang beragama Islam. Selain kepada Allah SWT, penguasa Turki adalah tempat kami menaruh kepercayaan dan hanya Yang Mulialah penolong kami. 

Ramalan Negeri Aceh Dulu dan Sekarang

Wasiat Endatu Wangsa Acheh, Nabi Khiddir As, Pada Syèch Abdul Rauf Syiah Kuala Dan Sulthan Iskandar Muda di Istana Kutaraja, Tersurat dalam Naqal Syèc

  1. Bahwa lebih kurang dalam tahun 1260 H. Negeri Acheh akan ditimpa bala bencana
  2. Bahwa dalam tahun 1320 H. Negeri Acheh dikalahkan oleh Kerajaan "Ba" (Belanda), yang datang dari pihak barat.
  3. Bahwa beberapa lama kemudian lebih kurang 40 musem. Kerajaan "Ba" (Belanda), dikalahkan oleh Kerajaan "Jim" (Jepang), yang datang dari pihak matahari terbit.
  4. Bahwa lebih kurang empat musem Kerajaan "Jim" (Jepang), menguasai Negeri Acheh, tiba-tiba ia keluar dalam sekejab mata, karena dikalahkan oleh praja (syimbol) Ajam, praja gajah, praja beruang, praja singa ( Sekutu ) dan barang sebagainya .
  5. Setelah Kerajaan "Jim"( Jepang) keluar, maka negeri Acheh dan negeri dibawah angin lainnya, atas usaha isi negeri itu, akan berdiri satu Kerajaan yang menaklukkan negeri Acheh dan negeri dibawah angin lainnya ( negeri kosong pemimpin ). Kerajaan itu bernama ber-awalan huruf, "Alif" (Indonesia) dan ber-akhiran dengan huruf "Jim"(Jawa).
  6. Kerajaan itu akan berdiri sampai kuat, akan tetapi negeri haru-hara, banyak pertumpahan darah, rakyat banyak mudharat, kehidupan susah, perdagangan mahal, pakaian dan makanan mahal. Yang pandai tutup mulut, orang-orang besar banyak yang dusta. Semua rakyat berpaling muka pada pembesar itu. Perampasan terjadi di ditiap-tiap simpang, dengan tidak bersenjata dan banyak orang pada masa itu sangat suka pada kuning dan merah dengan menanti yang tidak mengaku "Allah" dan bermusuhan dengan agama yang ada diatas bumi ini.
  7. Bahwa pada waktu itu ummat Islam banyak tersesat, karena kurang ilmu, kurang amal, lemah iman, banyak dosa, ketika itu banyak ummat Islam meninggalkan "Mazhab" yang empat dan membuat "Mazhab" kelima dan itulah tanda huru-hara, kutok dan bala.
  8. Manusia pada waktu itu banyak membuang adat istiadat sendiri dan mengambil adat istiadat orang lain. Pada masa itulah manusia telah banyak meninggalkan Syariat Nabi Muhammad SAW dan mengkafirkan i'tikad Ahlussunnah Waljama-ah dan pada waktu itulah orang negeri banyak meungikut huruf "enam" dan ada juga yang suka pada huruf Fa (Fasek) - Qaf (Qufur) - Jim ( Jahil) atau Qaf ( Qufur ) - Mim ( Murtad ) - Jim (Jahil) - Nun (Nakal) dan Sin (sesat). Mereka tidak mengaku adanya Tuhan Rabbul A'lamin.
  9. Bahwa nanti akan datang pada satu masa rakyat bangkit dengan amarahnya seperti api ¬yang menyala-nyala. Bermaksud membela negeri dan hendak melepaskan diri dari kuning dan merah dan barang sekaliannya. Akan tetapi kelakuannya bermacam-¬macam ragam dan pada akhirnya, yang memindahkan kuning dan merah itulah yang menang. Nyakni golongan yang tidak suka pada pekerjaan atau perbuatan yang salah. Serta berdiri agama meunurut Ahlussunnah Walajama-ah, yang bermazhab dengan mazhab "empat" . Negeri aman, damai, adil dan makmur seperti dahulu kala, nyakni akan menang orang ber-iman.
  10. Pada tahun 1440 H. Negeri Acheh Akan dikuasai oleh Kerajaan Ajam (Rakyat) yang dipimpin oleh pemimpin yang timbul dari rakyat yang berdarah pemimpin ade. Manusia pada waktu itu kuat agamanya, kuat imannya. Bidang ibadah dan pengajian di Dayah-dayah sangat ramai dari orang menuntut ilmu, tapi manusia pada waktu itu banyak yang takut, baik orang biasa, tgk-tgk, tgk-tgk dayah, orang mengaji dan tgk-tgk di kampung-kampung sangat takut kepada penyakit yang tidak dapat dikesan, diperiksa dengan alat medis. Penyakit itu dianya, tenun atau sihir, karena banyak manusia kala itu juga menuntut dan mengamalkan ilmu-ilmu sihir atau ilmu hitam.Kala itu, masa datangnya pemimpin ade yang menjalankan adat dan hukom. sampai negeri aman, damai, adil dan makmur, sejahtera seperti dahulu kala. (akan berdiri kembali Kesulthanan Acheh Serambi Makkah Wal aman).
Wassallam. Wahusnul Khatimah Ala Mantabial Huda. Wallahu Aklam Bissawab.
Kitab Mandiyatul Badiah. Syech Abdul Raul Syiah Kuala.
Geupeutubiet/Geusu-son le Tgk. Syamsuddin Yahya (Lhoknga Bireun)